Berapa kali aku katakan aku tak pandai berkata-kata aku
hanya bisa mengucap “aku rindu kamu” “kapan ketemu?” “aku ngga mau jauh-jauhan”
dan keluhan-keluhan lainnya. Aku rasa itu sebagian keluhan, yap. Keluhan. Karna
aku terlalu bingung untuk mengungkapkan rasaku, aku terlalu bingung untuk mengontrol
semua inginku, dan semuanya itu adalah rinduku padamu, aku takut kau bosan
karna aku terus menerus merengek seperti ini, aku sangat paham harusnya aku tak
seperti ini, aku sangat mengerti harusnya aku mengembangkan rasa sabarku bukan
seperti ini, di sore ini aku masih menunggu kabarmu, kamu janji mengabariku kan
setelah semua urusanmu selesai? Aku tau aku tak cukup sepadan untuk
dibandingkan dengan urusan karier mu, aku tau aku tak akan pernah menang jika
berkompetisi dengan kariermu, namun akupun tak pernah ingin untuk berkompetisi
memang. Aku hanya ingin dirimu tahu sekarang ini aku sangat mengkhawatirkanmu,
bukan. Bukan karena aku tak percaya padamu, namun mungkin karena aku merindu,
yaa, aku merindu lagi. Salah kah aku? Berlebihankah diriku? Memang semua yang
berlebihan akan berakibat buruk jika terus dilakukan, namun…. Hal apa yang bisa
memberhentikan rasaku ini?
Seketika aku diam, aku mengerti doa adalah penenang dari
segala rasa yang bergejolak di hatiku, doa menjadi penghubung antara aku dan
kamu, doa adalah penyambung rasaku untukmu begitu pun sebaliknya.
Manusia memang lemah, aku termasuknya, maka doalah
penguatnya, Dia sandaran abadi, kalo beberapa orang dapat absen memelukku, Dia
akan selalu memelukku bahkan… menggendong
Tuhan, Mohon lindungi dia, kesehatannya, kebaikan hatinya,
kemudahan urusannya, peringan bebannya, jangan biarkan ada yang membebaninya,
mohon jaga dia ketika jauh dari hamba, peluk dia dalam bahagiaMu.. Amin